Seorang Guru yang Berjalan
Di suatu siang yang biasa, di sebuah pasar yang ramai, seorang lelaki berbaju lusuh berhenti untuk berbicara dengan seorang pemungut cukai. Ia tidak menawar harga. Ia tidak mempersoalkan tarif. Ia hanya menatap mata orang itu dan berbicara tentang kerajaan yang tidak bisa dilihat dengan mata. Orang-orang tertegun. Sebagian mengernyit, sebagian lagi tersenyum sinis. Tapi lelaki itu terus berjalan. Dan di setiap langkahnya, ia menulis pelajaran di atas pasir, di atas hati manusia.
Kita mengenalnya sebagai Yesus dari Nazaret. Seorang tukang kayu dari keluarga kecil. Bukan seorang ahli Taurat, bukan seorang filsuf dari sekolah Yunani yang bergengsi. Ia tidak membawa gelar, tidak pula mengutip para nabi untuk mengukuhkan kewibawaannya. Tapi anehnya, kata-katanya bertahan lebih lama dari pilar-pilar kuil Roma.
Yesus mengajar, tetapi ia tidak menempatkan dirinya di atas. Ia berbicara, tetapi lebih sering dengan cerita daripada perintah. Ia adalah seorang guru yang lebih suka bertanya, mengundang, daripada menunjuk dan menekan. Ia menyapa orang-orang yang diabaikan: perempuan, anak-anak, pemungut pajak, orang sakit. Ia menjungkirbalikkan panggung sosial di mana mereka yang rendah diberi tempat di tengah.
"Kerajaan itu ada di antara kamu," katanya suatu kali. Bukan di istana. Bukan di bait suci. Bukan di tumpukan naskah suci yang rapuh oleh waktu. Tapi di dalam diri mereka yang bersedia mendengarkan.
Yesus tidak mengajarkan ajaran dalam bentuk dogma kaku. Ia membiarkan ceritanya mengendap, tumbuh, dan membentuk orang dari dalam. Ia bercerita tentang biji sesawi, tentang seorang anak yang hilang, tentang seorang gembala yang meninggalkan 99 domba demi satu yang tersesat. Ia membiarkan para pendengarnya menggali makna itu sendiri. Ia tidak memaksa mereka menerima kebenaran. Ia mengundang mereka untuk melihat dengan cara yang baru.
Barangkali itulah mengapa pengikutnya bukan mereka yang mapan. Para petani, nelayan, orang-orang miskin yang tersisih dari wacana para cendekiawan dan penguasa. Mereka menemukan dalam dirinya sesuatu yang tidak mereka temui di sekolah-sekolah agama. Sebuah penghargaan terhadap diri mereka sendiri.
Yesus adalah seorang pengajar yang tidak hanya mengucapkan pelajaran. Ia mewujudkan pelajaran itu dalam tubuhnya. Ia menyentuh mereka yang dianggap najis. Ia makan bersama orang-orang berdosa. Ia melanggar aturan-aturan sosial dengan kelembutan yang radikal. Ia menjadikan tubuhnya dengan segala risiko dan keberaniannya sebagai teks yang hidup.
Ada satu momen yang membekas. Ketika ia berdiri di hadapan Pontius Pilatus. Ditanya tentang siapa dirinya, Yesus menjawab dengan sederhana, "Aku datang untuk bersaksi tentang kebenaran." Tetapi Pilatus, seperti manusia-manusia setelahnya, menjawab dengan getir, "Apakah kebenaran itu?"
Barangkali sejak saat itu, pertanyaan itu terus bergema. Di ruang-ruang pengadilan. Di ruang-ruang kelas. Di ruang-ruang sunyi tempat manusia mencoba memahami hidup. Dan mungkin, Yesus tahu bahwa jawaban atas pertanyaan itu tidak dapat diucapkan. Ia hanya bisa dihidupi.
Ia tidak menulis buku. Ia tidak membangun sekolah. Ia hanya berjalan dan berbicara. Ia hidup dalam tubuhnya dan tubuh sosial yang terus menirukan jejaknya. Dari tubuh itu lahir komunitas-komunitas yang menafsirkan ulang ajarannya dalam wajah-wajah yang beragam. Dari gereja-gereja besar di kota-kota, hingga kelompok-kelompok kecil di gang-gang sempit Amerika Latin yang memperjuangkan keadilan bagi kaum miskin.
Dalam lintasan waktu yang panjang, ajaran Yesus bersentuhan dengan teologi pembebasan, dengan gerakan-gerakan akar rumput, dengan gagasan Paulo Freire tentang "praxis," sebuah kesadaran yang tidak berhenti di dalam kepala tetapi bergerak melalui tubuh yang menuntut perubahan sosial.
Dalam jalan sunyinya, Yesus menantang batas antara yang sakral dan yang profan. Ia mengajarkan bahwa belajar tidak selalu membutuhkan ruang formal. Bahwa kebijaksanaan tidak selalu datang dari yang berpendidikan tinggi. Bahwa kebenaran sering bersembunyi di dalam kesederhanaan.
Ia adalah guru yang menghapus garis antara pengajar dan pelajar. Ia membiarkan anak-anak duduk di sekelilingnya, mengizinkan tangan-tangan kecil meraih jubahnya. Dalam masyarakat yang membungkam suara perempuan dan meminggirkan yang miskin, Yesus membuka ruang. Ia bukan hanya mengajarkan apa yang benar, ia mengajarkan bagaimana menjadi manusia yang memuliakan sesama.
Waktu berlalu. Tubuh itu disalibkan. Tapi ceritanya terus hidup. Cerita yang mengajarkan bahwa pembebasan bukanlah hadiah dari mereka yang berkuasa, melainkan kesadaran yang tumbuh dari dalam diri.
Barangkali, itulah mengapa sampai hari ini, sosoknya tetap memancing perdebatan, kekaguman, dan kadang juga kecurigaan. Ia terlalu sederhana untuk disakralkan sepenuhnya. Ia terlalu radikal untuk dijinakkan oleh institusi mana pun. Ia tidak pernah membangun sistem. Ia hanya menghidupi sebuah jalan.
Dan di jalan itu, barangkali kita masih bisa mendengar suaranya, samar-samar, memanggil kita untuk belajar melihat sekali lagi dunia yang selalu mungkin untuk diperbaharui.
Referensi: Fifty Major Thinkers on Education

Posting Komentar